Ayo Bersatu Dalam Penetapan Ramadhan dan ‘Ied!

By on June 9, 2013

Underground Tauhid–Terjadinya perbedaan dan perselisihan – di tataran penerapan – masih selalu mewarnai sekaligus mengurangi dan mengganggu kesempurnaan kegembiraan kaum muslimin dalam menyambut dan menjalani puasa Ramadhan, ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha sampai saat ini. Ibadah-ibadah yang semestinya menjadi syi’ar ukhuwah, kebersamaan dan persatuan kaum muslimin tersebut, justru berubah menjadi simbol ananiyah (egoisme),‘ashabiyah (fanatisme) dan perpecahan antar kelompok-kelompok Umat.

Seperti yang terjadi dalam ‘Iedul Fitri yang baru lalu, dimana gara-gara masih adanya perselisihan itu, suasana hari raya jadi terasa hambar dan tidak sesemarak serta seindah yang semestinya. Ditambah lagi dengan adanya pernik-pernik peristiwa yang sebagiannya unik dan  sebagian lainnya memprihatinkan.

Diantara yang unik itu, adalah kejadian di sebagian desa di Jawa Timur yang semula warganya saling bersitegang dalam mempertahankan pendapat masing-masing dalam menetapkan ‘Iedul Fitri, antara hari Senin dan Selasa, namun akhirnya mereka sepakat untuk ber-‘Iedul Fitri hari Selasa, bukan atas dasar ru’yah maupun hisab, tapi karena faktor megengan ! Dan itu atas keputusan (bukan usulan!) kalangan ibu-ibu yang ber-“hujjah” jika ‘Iedul Fitri diadakan hari Senin (yang berarti esok harinya, karena polemik terjadi pada hari Ahad), maka mereka tidak sempat lagi masak-masak untuk keperluan megengan. Dan ‘Iedul Fitri tanpa megengan akan menjadi kurang afdhal, tentu menurut persepsi mereka. Jadi ternyata megengan-lah yang justru bisa menjadi faktor pentarjih dan penyatu disini.

Ada lagi daerah lain yang masyarakatnya semula selalu berselisih dalam menetapkan ’Iedul Fitri, tapi akhirnya sepakat untuk memilih ber-’Iedul Fitri pada hari yang paling akhir dalam pendapat-pendapat ada. Dan dasar pertimbangan serta faktor pentarjih dan pemersatunya kali ini adalah suara para pedagang makanan khas Ramadhan!

Adapun diantara pernik-pernik peristiwa yang cukup memprihatinkan adalah adanya kaum muslimin di sebagian desa yang akhirnya kehilangan kesempatan ber-’Iedul Fitri di desa mereka sendiri, dan terpaksa ber-’Ied (baca: shalat ’Ied) dengan cara nunut desa-desa tetangga. Dan itu disebabkan karena perselisihan yang tidak bisa disatukan, sehingga akhirnya mereka terpaksa sepakat membuat keputusan pahit untuk meniadakan shalat ’Iedul Fitri di desa mereka, baik Senin maupun Selasa. Dan diantara point-point keputusan mereka juga adalah ditiadakannya shalat tarawih dan takbiran pada malam Senin waktu itu!

Ada lagi kejadian memprihatinkan yang hampir berakhir dengan bentrok fisik – di sebuah kota kecil di Jawa Timur juga – akibat perselisihan dalam penetapan ’Iedul Fitri yang lalu, dimana masyarakat yang berduyun-duyun datang pada pagi hari Senin untuk shalat ’Ied di Masjid Jami’, akhirnya kecele dan kecewa berat setelah mereka mendapati masjid dalam keadaan terkunci rapat dan  tidak berhasil diupayakan agar dibuka, karena pihak takmir bersikukuh mengikuti pendapat yang menetapkan ’Iedul Fitri hari Selasa.

Tentu saja peristiwa-peristiwa itu dan masih banyak yang lainnya lagi, tidak akan terjadi kalau saja kondisisyaadz yang selama ini ada dan seakan-akan ”dipertahankan” di negeri ini (di negara-negara lain hampir tidak terjadi perselisihan seperti yang terjadi disini!), bisa dihilangkan – dan harus dihilangkan – dengan dicapainya kata sepakat – dan ini sangat mungkin selama ada kepahaman dan kesungguhan – dalam penetapan shaum Ramadhan dan ’Iedain.

Salah satu jalan – yang ideal saat ini – ke arah penyatuan kata dalam hal ini adalah melalui jalur atau metode toleransi dan kompromi. Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai sebuah kontribusi kecil kearah tercapainya tujuan mulia tersebut.

Syi’ar Kebersamaan dan Persatuan

Puasa Ramadhan dan ‘Iedain adalah ibadah-ibadah syiar kebersamaan (sya’aa-ir jamaa’iyyah), dimana semestinya seluruh kaum muslimin memulai puasa secara bersama-sama, mengakhirinya secara bersama-sama, dan bergembira dalam merayakan ‘Iedain juga secara bersama-sama, khususnya dalam satu negara atau wilayah tertentu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Ash-shaumu yauma tashuumuun, wal-fithru yauma tufthiruun, wal-adh-haa yauma tudhahhuun” (Puasa Ramadhan adalah pada hari dimana kalian semua bersama-sama berpuasa. Idul Fithri adalah pada hari dimana kalian semua bersama-sama ber-’Iedul Fitri. Dan ‘Iedul Adha adalah pada hari dimana kalian semua bersama-sama ber-’Iedul Adha) (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah; dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani).

Hanya saja, kaidah ini ternyata masih belum mudah direalisasikan sampai saat ini. Kita, kaum muslimin, masih sering berbeda dan berselisih, termasuk dalam ‘Iedul Fitri yang baru lalu. Namun kita semua patut berharap dan juga harus berusaha agar suatu saat bisa dicapai kata sepakat antar organisasi dan tokoh umat Islam, untuk menyatukan penetapan awal dan akhir Ramadhan serta ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. Karena kita tidak menemukan dalam sejarah Islam adanya perbedaan dalam berpuasa Ramadhan dan berhari raya dalam satu wilayah, satu kota, satu kampung, apalagi dalam satu rumah, sebagaimana yang terjadi saat ini.

Yang pernah terjadi semenjak masa sahabat hanyalah perbedaan antara wilayah yang berjauhan, seperti yang kita dapati dalam hadits Kuraib (HR Muslim, Ahmad dan Tirmidzi) dimana Ibnu ‘Abbas dan para sahabat di Madinah menetapkan Ramadhan dan ‘Iedul Fitri berdasarkan hasil ru’yah khusus di Madinah yang berbeda dengan hasil ru’yah Khalifah Mu’awiyah dan kaum muslimin di Syam. Dan untuk saat ini, bisa jadi adanya perbedaan yang mencolok dalam satu negara hanya terjadi di Indonesia saja, sementara di negara-negara muslim yang lainnya hal tersebut hampir tidak pernah terjadi, meskipun tetap saja ada perbedaan antara satu negara dengan negara yang lainnya.

Dr. Yusuf Qardhawi berkata,”Upaya untuk mencapai kesatuan kaum muslimin dalam berpuasa, ber-’Iedul Fitri, dan dalam menjalankan seluruh syiar dan syariat agama merupakan perkara yang senantiasa dituntut. Kita tidak boleh berputus asa dalam upaya merealisasikannya dan menghilangkan berbagai faktor yang menghalanginya. Namun ada satu hal yang wajib ditekankan dan tidak boleh sekali-kali diabaikan, yaitu bahwa jika kita belum berhasil mencapai kesatuan global antar negara-negara muslim di seluruh penjuru dunia, maka minimal kita wajib berupaya dengan sungguh-sungguh demi tercapainya kesatuan yang bersifat lokal antara kaum muslimin di satu negara tertentu. Oleh karena itu kita tidak bisa menerima terpecahnya kaum muslimin di satu negara atau bahkan di satu kota, dimana sekelompok orang mulai berpuasa hari ini misalnya, dengan keyakinan bahwa hari itu sudah masuk bulan Ramadhan, sementara yang lainnya masih belum berpuasa dengan keyakinan bahwa hari itu masih termasuk bulan Sya’ban. Lalu di akhir bulan, sebagian masih tetap berpuasa sementara sebagian yang lainnya sudah ber-’Iedul Fitri. Hal ini tidak bisa dibenarkan” (Fatawa Mu’ashirah, Jilid II, hal. 223).

Oleh karena itu, jika saat ini ada sebagian kaum muslimin yang sangat bersemangat untuk mengikuti ru’yah secara global (ru’yah ‘alamiyah), hal tersebut memang ideal dalam tataran wacana. Namun dalam realitas, saat ini hal tersebut sangat tidak ideal, tidak logis dan bahkan tidak syar’i. Karena bagaimana mungkin kita ingin bersatu dengan kaum muslimin di wilayah yang sangat jauh, misalnya di Timur Tengah, sementara kita justru berselisih dengan kaum muslimin yang ada di sekitar kita! Yang semestinya dilakukan adalah mengusahakan penyatuan itu dimulai dari wilayah-wilayah yang terdekat untuk kemudian pada saatnya bisa mencapai persatuan seluruh dunia Islam.

Keleluasaan dan Rahmat bagi Umat

Masalah penetapan puasa Ramadhan dan ‘Iedain termasuk masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah, yang mengandung keleluasaan dan kelonggaran. Perselisihan para ulama dalam hal ini memberikan keleluasaan dan rahmat bagi umat Islam. Oleh karena itu, dalam hal ini kita tidak boleh bersikap mutlak-mutlakan, mau menang sendiri, saling mengingkari, apalagi membid’ahkan, memfasikkan atau menghukumi sesat pihak yang lainnya. Hal ini sesuai dengan kaidah yang telah disepakati oleh para ulama: Laa inkaara fil masaa-il al-ijtihaadiyyah(Tidak boleh mengingkari dalam masalah-masalah ijdihadiyah).

Imam Yahya bin Sa’id Al-Anshari berkata,”Para ulama adalah orang-orang yang memiliki kelapangan dada dan keleluasaan sikap, dimana para mufti selalu saja berbeda pendapat, sehingga (dalam masalah tertentu) ada yang menghalalkan dan ada yang mengharamkan. Namun toh mereka tidak saling mencela satu sama lain” (Tadzkiratul Huffazh Jilid I hal. 139 dan Jaami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlih hal 393).

Disamping itu, perbedaan pendapat yang terjadi diantara kaum muslimin saat ini sebenarnya hanyalah mengikuti dan mewarisi perbedaan pendapat yang telah terjadi diantara para ulama salaf terdahulu. Jika kita saat ini mengingkari dan mencela pihak lain yang memiliki pendapat yang berbeda, berarti kita telah mengingkari dan mencela ulama salaf yang berpendapat serupa, yang dijadikan panutan oleh pihak lain yang kita ingkari dan cela itu.

Sikap Dasar Toleransi dan Kompromi

Sikap dasar yang harus ditunjukkan terhadap masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah, khususnya yang terkait dengan kemaslahatan umum adalah sikap melonggarkan (tausi’ah) dan toleransi serta kompromi (tasamuh), dimana bentuk toleransi dan kompromi itu tidak hanya terbatas pada pengakuan dan penghormatan saja, tetapi bisa jadi bahkan sampai pada tingkatan meninggalkan pendapatnya dan mengikuti pendapat orang lain, sebagaimana yang telah dipraktekkan dan dicontohkan oleh para ulama salaf. Berikut ini beberapa contoh yang patut menjadi pelajaran dan teladan bagi kita semua.

  1. Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur (atau Harun Ar-Rasyid) pernah berazam untuk menetapkan kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik sebagai kitab wajib yang harus diikuti oleh seluruh umat Islam. Namun Imam Malik sendiri justeru menolak hal itu dan meminta agar ummat di setiap wilayah dibiarkan tetap mengikuti madzhab yang telah lebih dahulu mereka anut” (Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih : 209-210, Al-Intiqa’ : 45).
  2. Khalifah Harun Ar-Rasyid berbekam lalu langsung mengimami shalat tanpa berwudhu lagi (mengikuti fatwa Imam Malik). Dan Imam Abu Yusuf (murid dan sahabat Imam Abu Hanifah) pun ikut shalat bermakmum di belakang beliau, padahal berdasarkan madzhab Hanafi, berbekam itu membatalkan wudhu (Majmu Al-Fatawa : 20/364-366).
  3. Imam Ahmad termasuk yang berpendapat bahwa berbekam dan mimisan itu membatalkan wudhu. Namun ketika beliau ditanya oleh seseorang,”Bagaimana jika seorang imam tidak berwudhu lagi (setelah berbekam atau mimisan), apakah aku boleh shalat di belakangnya?” Imam Ahmad pun menjawab,”Subhanallah! Apakah kamu tidak mau shalat di belakang Imam Sa’id bin Al-Musayyib dan Imam Malik bin Anas?” (karena beliau berdualah yang berpendapat bahwa orang yang berbekam danmimisan tidak perlu berwudhu lagi) (Majmu’ Al-Fatawa : 20/364-366).
  4. Imam Abu Hanifah, sahabat-sahabat beliau, Imam Syafi’i, dan imam-imam yang lain, yang berpendapat bahwa membaca basmalah adalah wajib karena ia merupakan bagian dari Al-Fatihah, biasa shalat bermakmum di belakang imam-imam shalat di Kota Madinah yang bermadzhab Maliki, padahal imam-imam shalat itu tidak membaca basmalah sama sekali ketika membaca Al-Fatihah, baik pelan maupun keras … (Al-Inshaf  lid-Dahlawi: 109).
  5. Imam Asy-Syafi’i pernah shalat shubuh di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah dan tidak melakukan qunut (sebagaimana madzhab beliau), dan itu beliau lakukan ”hanya” karena ingin menghormati Imam Abu Hanifah. Padahal Imam Abu Hanifah telah wafat tepat ketika Imam Syafi’i lahir (Al-Inshaf : 110).

Kesalahan yang Ditolerir dan Dimaafkan

Terjadinya kesalahan dalam masalah-masalah khilafiyah ijtihadiyah seperti penentuan puasa Ramadhan dan‘Iedain adalah kesalahan yang ditolerir dan dimaafkan. Tentu saja kesalahan yang dimaksud adalah kesalahan yang terjadi setelah dilakukannya ijtihad sesuai prosedur yang mu’tabar.

Seandainya terjadi kesalahan dalam menetapkan awal Ramadhan atau awal Syawal misalnya, yang menyebabkan kaum muslimin berpuasa pada hari yang sebetulnya masih termasuk bulan Sya’ban atau ber-’Iedul Fitri pada hari yang sebetulnya masih termasuk bulan Ramadhan, maka Allah akan memaafkan kesalahan tersebut sebagaimana janji-Nya bahwa Ia telah mengabulkan doa kaum muslimin yang terdapat dalam firman-Nya: Rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiina aw akhtha’naa (’Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau bersalah’) [QS Al-Baqarah: 286] (HR Muslim).

Bahkan seandainya terjadi kesalahan dalam menetapkan awal bulan Dzulhijjah sehingga kaum muslimin berwukuf di Arafah pada hari yang sebenarnya masih tanggal 8 atau sudah tanggal 10, maka haji mereka tetap sah dan diterima, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang lainnya (LihatFatawa Mu’ashiraah Jilid II hal 223)[]

Oleh : Ust Muzhaffar Jufri MA

Editor: Aditya Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>