Kata-kata Bijak yang Koplak! Dasar Koplak!

By on May 25, 2012

Underground Tauhid - Kemampuan yang paling hebat, dan juga paling mengerikan dari para filsuf, sastrawan, dan penulis amatiran (seperti saya), adalah merangkai kata-kata.. Kemampuan persuasi, yang bisa membuat hal-hal yang sebenarnya koplak, terlihat bijak.. Suatu hal-hal yang jelas salah pun, akan bisa terlihat luar biasa benar, luar biasa masuk akal lengkap dengan argumen yang indah dan berbunga-bunga, yang kedengarannya muncul dari seorang bijak berjanggut yang sedang bersemedi di bawah pohon, lengkap dengan kicauan burung di latar belakang..

Kata-kata bijak berikut ini, saat pertama anda membacanya, anda mungkin akan manggut-manggut setuju, hati anda tersentuh, bahkan mata anda akan berkaca-kaca sambil menghela napas panjang sambil membatin: ‘iya juga yaa..’ Benarkah itu bijak? Yuk kita kritisi..

“Kita tidak perlu menghakimi keburukan orang lain.. Biarlah itu urusan dia dengan Tuhannya.. Hanya Tuhan yang tahu mana yang paling benar. Hanya Tuhan lah yang berhak menghakimi, di akhirat kelak..”

Wow, wow, wow, tunggu dulu.. Jika saja hanya Tuhan yang berhak menghakimi, mari kita bubarkan semua lembaga peradilan, karena manusia tidak berhak menghakimi bukan? Mau orang korupsi, mencuri, menjadi gay dan lesbian, menghina agama, bahkan membunuh orang lain, biarkan saja.. Toh kita tidak berhak menghakimi orang lain kan? Hanya Tuhan yang berhak.  Jadi jika ada polisi yang coba mendenda kita karena buang sampah atau merokok sembarangan di Singapura, tampar saja si sok tahu itu, dan katakan: “hanya Tuhan yang berhak menghakimi saya!!” Jika kita hanya membiarkan Tuhan yang mengadili semua keburukan-keburukan manusia di dunia, kita tidak perlu hukum lagi, dan mari kita kembali ke zaman batu (bahkan manusia zaman batu pun punya peraturan). Atau kita ikuti saja kata-kata teman saya: “Lemah teles, Gusti Alloh seng mbales..”

“Kenapa kita ribut-ribut masalah yang sepele sih? Pornografi diributin, penulis buku yang mempromosikan lesbi dihalangin.. Lady Gaga diributin.. Mendingan urusin tuh koruptor, mereka yang lebih berbahaya bagi bangsa kita ini..”

Weks.. Ini sih sama saja dengan: “Ngapain kita tangkap orang yang nyolong sandal, tuh yang maling motor aja dikejar..”. Lha perbuatan buruk, besar atau kecil, tetap harus dihalangi.. Jika orang tersebut menentang pornografi, bukan berarti dia diam saja terhadap koruptor kan? Bukankah lebih baik kita menjaga dari keduanya.. Katakan: say no to pornografi dan korupsi! Dua-duanya, menurut saya, cepat atau lambat, akan menghancurkan negara ini.. bahkan masyarakat barat sendiri pun cukup resah dengan pornografi, koq malah kita mendukungnya?

“Tuhan itu maha kuasa, maha agung, maha besar. Jadi ga perlu dibela. Jika kalian membentuk gerakan untuk membela agama, itu sama saja dengan kalian melecehkan kekuasaan dan kekuatan Tuhan. Tuhan ga perlu dibela..”

Weleh, tunggu sebentar.. Organisasi-organisasi agama yang dibentuk selama ini, dari agama manapun, didirikan untuk membela Tuhan, atau untuk kepentingan para pemeluk agama? Organisasi tersebut dibentuk untuk mengurusi, menyuarakan, dan mengakomodasi kepentingan para penganutnya.. Jika organisasi tersebut bertujuan melindungi kepentingan para anggotanya, kenapa dituduh sedang berusaha membela Tuhan? Saya koq tidak ingat ada organisasi agama yang visi dan misi organisasinya adalah: “untuk membela Tuhan di muka bumi..”

“Kenapa sih anti banget dengan seks bebas? Anti banget dengan rok mini? Padahal diam-diam toh suka nonton film porno, doyan seks juga, suka melototin paha juga.. Dasar otaknya aja yang kotor.. Bersihin tuh otaknya, jangan urusin pakaian orang lain.. Kalau otaknya bersih dan imannya kuat, mau ada yang telanjang di depannya juga ga akan tergoda.. Gak usah munafik dan sok suci deh..”

Lhaaa… Sebentar… Kelompok yang anti seks bebas bukan berarti mereka ga doyan seks ya.. Yang menjadi penentu adalah bagaimana cara kami menyalurkan hasrat kami.. Kami tentu saja suka seks, menikmati seks, tapi dengan pasangan kami, dengan cara yang bertanggung jawab.. Seks merupakan rahmat Tuhan, tapi nikmatilah secara bertanggung jawab.. Jika kami memang maniak seks yang suka meniduri semua makhluk yang berkaki dua, tentu saja kami dengan senang hati mendukung seks bebas.. Itu berarti kami makin bebas meniduri berbagai macam wanita tanpa harus pusing mikirin pampers dan susu, karena, dengan menyebarnya paham seks bebas, makin banyak wanita yang bersedia kami manfaatkan (dan kami tiduri), kemudian kami tinggalkan setelah puas..

Otak kami yang kotor? Ayolah, jika saja para lelaki diciptakan tanpa nafsu, maka sudah lama manusia punah.. Sudah kodratnya laki-laki akan tergerak nafsunya jika melihat paha wanita.. Jika ada lelaki yang dengan gagah berani bilang tidak tergerak nafsunya saat melihat paha wanita cantik, itu hanya omong kosong agar semakin banyak wanita yang memamerkan pahanya dengan senang hati.. Rok mini, memang diciptakan untuk memancing perhatian (dan nafsu) para lelaki.. Jika kami memang berfikiran kotor dan tak bisa menahan iman, tentu kami akan turun ke jalan untuk mendukung semua wanita memakai rok mini.. Makin banyak wanita yang bisa memuaskan nafsu kotor kami.. Jadi, siapakah yang berfikiran kotor dan tidak bisa menahan iman? Para lelaki yang menentang rok mini, atau pendukungnya? Para penentang seks bebas, atau pendukungnya?

Propaganda, seringkali seperti pelacur, menggunakan riasan tebal dan indah untuk menutupi kebusukan di baliknya..

Saya pernah tinggal di kos-kosan di Yogya, yang anak-anaknya terdiri dari berbagai macam aliran: agnostik, atheis, kejawen, liberal, penyembah keris, bahkan ada begitu bingung, sehingga akhirnya mengaku sebagai komunis relijius…

Dengan beragamnya fikiran yang pernah kami perdebatkan, diiringi menyeruput kopi dan menghisap rokok, fikiran saya dijejali dengan berbagai macam aliran lengkap dengan argumen yang luar biasa indah.. Mungkin itu yang membuat saya jadi terlatih mengasah logika, sambil garuk-garuk kepala, dan selalu mencoba melihat jauh ke balik kata-kata nan indah itu.. Nih, kata-kata bijak yang lagi trend saat ini:

“Lady Gaga koq diributin.. Apa bedanya dengan yang sudah ada di Indonesia? Penyanyi Indonesia juga banyak tuh yang seronok. Tuh penyanyi dangdut seronok masuk sampai ke kampung-kampung, ditonton anak-anak. Jika mau adil, yang seperti itu juga dilarang dong..”

Lha para pendukung kebebasan itu memangnya selama ini mendukung pelarangan pornografi sampai ke kampung-kampung? Dulu saat Inul banyak yang menentang, kaum liberalis juga menggunakan dalil yang sama: ‘yang lain juga dilarang doong’. Protes soal chef Sarah Quin (betul ga ya namanya?), juga ditentang dengan alasan: ‘dia ga sengaja tampil seronok koq’. Jika tempat-tempat maksiat digerebek, katanya menghalangi orang cari nafkah. Jika penyanyi dangdut seronok itu diprotes masyarakat sekitar, dijawab: urus dosa masing-masing, kalau ga suka ya ga usah nonton.. Bahkan di saat semua itu berusaha dikurangi dengan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, banyak yang menjerit-jerit: “jangan memasung kebebasan berekspresi!” Intinya kan sebenarnya: “Jangan larang kami melakukan pornografi dan pornoaksi, di tingkat manapun! Mau kami menari bugil sambil mutar-mutarin baju di atas kepala di genteng rumah kami, yo jangan protes!” Jadi, kenapa membanding-bandingkan Lady Gaga ama Keyboard Mak Lampir? (julukan para pedangdut seronok di daerah kami..). Toh dua-duanya sebenarnya kalian dukung, atas nama kebebasan berekspresi? Kami, malah sedang berusaha menentang dua-duanya..

“Kita hidup dlm masyarakat yg sangat plural, sehingga setiap individu hendaknya bebas memilih & menjalankan apapun prinsip hidupnya (termasuk mendukung Irshad Manji atau Lady Gaga), lalu semuanya saling menghormati dlm segala perbedaan pilihan tsb”

Hmm.. Bijak dalam teori, kacau balau dalam praktek. Jika saja semua individu bebas menjalankan prinsip hidupnya, maka kita ga perlu nunggu suku Maya meramalkan akhir dunia. Bisa dibayangkan, jika banyak orang yang mendukung Sumanto, lalu menjalankan prinsip hidupnya sebagai kanibal, maka ayam goreng Kentucky ga bakal laris lagi, dan banyak orang yang nenteng-nenteng pisau daging dan botol merica di jalanan.. Atau, jika banyak orang yang mendukung Amrozi, kemudian menjalankan prinsip hidupnya sebagai pelaku bom bunuh diri, maka terminal bus way yang paling sesak pun akan bubar dalam 5 detik (termasuk penjaga tiketnya) begitu ada lelaki menyandang ransel datang mendekat..

Ya, ya saya tahu.. Argumen saya di atas pasti akan berusaha dimentahkan dengan argumen: “yang penting kan ga merugikan kalian” dalam bentuk kata-kata bijak nan koplak berikut:

“Apa salahnya dengan pornografi? Atau lesbi? Atau perbuatan-perbuatan maksiat lainnya? Toh ga merugikan anda. Jika anda tidak suka, ya ga usah ditonton, ga usah diikuti.  Jika takut anak anda terpengaruh, ya perkuat pendidikan iman anak-anak anda. Kalau iman sudah kuat, mau 1000 Lady Gaga datang ke Indonesia, iman kita (dan anak-anak kita) tidak akan terpengaruh..”

Hellooo.. Kita memang makhluk individu, tapi kita juga makhluk sosial. Setiap tindakan kita, sekecil apapun, akan berpengaruh terhadap lingkungan kita. Contoh gampangnya, kenapa kita protes sama tetangga kita yang buang sampah ke kali? “Toh sampahnya sampah dia sendiri (ya mana mungkin dia dengan ikhlas buangin sampahnya ente), kalinya bukan milik mbahmu, lantas kenapa ente yang sewot?” Lha memangnya kalo banjir, banjirnya muter-muter dulu cari siapa bajingan yang membuang sampah, lalu terus menyerbu menggenangi rumah tetangga anda saja sampai setinggi kepala?

Ok kita tidak suka perbuatan-perbuatan maksiat, dan kita berhasil menghindarinya. Lalu kita juga menanamkan iman yang kuat ke anak-anak kita, dan juga berhasil. Dan kita teriak ke luar sana: “Maree seneee Lady Gaga, Freddy Mercury, Jhon Kei dan Mak Lampir jadi satu!! Iman saya dan keluarga saya dah kuat koq!” Tapi sekian tahun ke depan, tiba-tiba ada anak tetangga kita yang kecanduan pornografi, lalu tidak tahan, dan akhirnya memperkosa anak perempuan kita.. Atau ada orang yang mabuk karena alkohol dan narkoba, lalu menabrak seluruh keluarga kita yang sedang jalan-jalan di trotoar.. Atau anak perempuan kita hilang, diculik sindikat yang menjualnya ke prostitusi.. Atau anak lelaki anda disodomi keluarga jauh anda.. Atau seorang pecandu merampok dan membunuh anda karena butuh uang untuk beli sabu.. Sama seperti banjir, ekses negatif dari perbuatan maksiat, tidak akan pernah pilih-pilih siapa korbannya, baik anda berbuat maksiat atau tidak..

Benar, bahwa kita tidak salah 100%, tapi, sebenarnya, kita tetap punya andil dalam hal itu. Kita sukses memperkuat iman keluarga kita, tapi kita abai dengan lingkungan kita. Itulah kenapa dalam Islam ada seruan: “amar makruf, nahi munkar”. Menyeru kepada kebajikan, mencegah kemungkaran. Jika kita mengabaikan kemunkaran di lingkungan kita, dengan prinsip: “urus dosa masing-masing”, yakinlah, cepat atau lambat, kita akan memetik hasilnya…

Masih enggan untuk amar makruf nahi munkar?

“Beri saya 10 media massa, maka saya akan merubah dunia..”

Saat ini, sungguh naif jika kita percaya media mainstream akan memberikan opini yang netral dan berimbang terhadap semua hal. Mereka akan memberikan opini yang sesuai dengan kepentingan sang pemilik (gimana kalo pemiliknya adalah Ryan Jagal?). Sungguh sangat berbahaya jika kita menganggap semua yang diberitakan media adalah berita yang 100% benar, tanpa berusaha mengkritisi dan mencari berita dari sudut pandang lain sebagai penyeimbang. Yuk, kita kritisi kata-kata bijak penutup ini..

“Menonton atau membaca pornografi, kekerasan, atau apapun tidak akan mempengaruhi saya. Toh semua manusia dibekali filter untuk menyaring, dan otak untuk berfikir. Jadi mau saya baca atau tonton ribuan kali pun , tidak akan merubah pendirian saya.. Satu kali nonton konser lady Gaga tidak akan membuat yg nonton jd pemuja setan dan lesbian kan?”

Hohohoho.. Yuk kita bandingkan keadaan sekarang dan keadaan 20 tahun yang lalu, tahun 80-90an. Zaman dulu, seks bebas di Indonesia masih sangat sedikit jumlahnya. Untuk kaum remaja saat itu, bergandengan tangan di depan umum saja, sudah menimbulkan ledekan yang membuat sang pelaku ingin menceburkan diri ke selokan terdekat. Lihat anak-anak sekarang? Mungkin anda sendiri yang dengan sukarela akan menceburkan diri ke selokan terdekat saat melihat gaya mereka berpacaran. Bahkan sekarang mereka dengan senang hati menyebarkan prilaku mereka dalam bentuk video yang jumlahnya mulai menyaingi produksi film porno Amerika dalam setahun.. Kenapa bisa bergeser? Apa anda kira para orang tua dan guru lah yang menanamkan dogma: “Anakku, kamu harus rajin-rajin seks bebas yaa, biar dapat rangking.. Yuk kita memasyarakatkan seks bebas dan menseks bebaskan masyarakat..”?

Jadi, siapa yang mengajari mereka? Jawabannya sederhana: media massa. Selama berpuluh-puluh tahun mereka menggempur otak bawah sadar kita dengan berbagai film, buku, berita, cerita, sinetron, dan lain-lain yang secara sangat halus menyiratkan: “Seks bebas itu hal yang biasa aja cooy.. Anak gaul, malu dong jika masih perawan di usia 18. Tuh, banyak artis idola kamu yang melakukannya.” Memang benar 1000 kali membaca, atau 1x nonton Lady Gaga belum tentu merubah kita.. Tapi, pesan-pesan itu ditanamkan selama berpuluh-puluh tahun, dalam bentuk jutaan pesan per tahun, dari berbagai arah, terhadap anda dan keluarga anda. Yakin anda dan keluarga anda tidak terpengaruh sedikitpun?

Siapa yang paling mudah bobol? Tentu saja anak anda. Anda kira, kenapa iklan McDonald dan rokok mengarah kepada anak-anak dan remaja? Karena merekalah berada dalam fase yang labil dan paling mudah dipengaruhi, dibandingkan orang tuanya. Saat mereka menjadi dewasa dan lebih bijaksana, rokok, junkfood dan seks bebas itu sudah menjadi kebiasaan mereka, candu mereka, sehingga mereka akan sangat sulit meninggalkannya, walau akhirnya paham kerusakan macam apa yang ada dibaliknya.

“Tetap ngga ngaruh maaas, iman gue kan KW1″ Mungkin. Tapi, sedikit banyak, anda akan terpengaruh. Anda akan menjadi permisif: “Biar ajalah orang lain melakukannya, yang penting aku tidak.. Toh banyak yang melakukan, dan itu bukan urusanku”. Itulah yang menjadi target selanjutnya: menanggalkan kontrol sosial anda.. Jika laju ‘cuci otak’ ini terus berlanjut, sepuluh tahun ke depan, jangan heran jika akhirnya kitalah yang mengekspor video porno ke Amerika dan masyarakat Amerika lah yang nonton konser Iwak Peyek Tour 2022..

“Jangan melihat siapa yang mengatakan dong. Kalau mau mengkritisi, kritisi gagasannya, kata-katanya, fikirannya. Jangan kritisi pribadi dan kelakuannya (bahasa alaynya: ad hominem).”

Oalaaah.. Saya beri contoh kasus ringan. Misalnya, kata-kata ini diucapkan dua orang yang berbeda: “Saya akan memajukan bangsa Indonesia. Saya akan berjuang menciptakan budaya bebas korupsi, pola hidup sederhana, dan mengikis habis kebohongan birokrat dan legislatif” Yang pertama, diucapkan oleh Buya Hamka. Satu lagi, diucapkan Angelina Sondakh. Saya rasa, yang pertama membuat anda manggut-manggut percaya, dan yang kedua membuat anda setengah mati menggigit bibir, lalu terguling karena tertawa terbahak-bahak.. Kenapa kata-kata yang sama persis, dengan nada sama persis, tapi diucapkan oleh dua orang yang berbeda, hasilnya bisa berbeda? Setiap kata-kata, sebijak apapun, selalu ada motif dibaliknya. Dan motif itu, sangat terkait dengan pribadi orang yang mengucapkannya. Jadi, kenapa kita tidak boleh mengkritisi pribadi yang mengucapkannya?

Jika anda ingin minta pendapat tentang gaya rambut, anda bertanya kepada penata rambut, atau ke tukang las? Jika saya bilang “lha masa tukang las mengerti soal gaya rambut”, apa itu ad hominem?

Kasus Irshad Manji adalah contoh lain yang gamblang tentang hal itu. Dia dibesar-besarkan media sebagai seorang reformis muslim yang berusaha mencerahkan umat Islam. Tapi di dalam bukunya, ia membantah prinsip-prinsip Islam sendiri dengan cara mempromosikan lesbian, gay dan transgender, menghina jilbab, bahkan meragukan kesempurnaan Al Quran..  Jika kita mengkritisi pribadinya yang lesbian (dan tentu saja ia akan berjuang keras agar lesbian dihalalkan dalam Islam) dan mengkritisi sikapnya yang meragukan Al Quran, di mana salahnya? Bukankah kita memang selalu menilai siapa yang berbicara, bukan hanya apa yang ia ucapkan? Bagaimana mungkin dia seorang muslim, jika ia meragukan Al Quran? Itu kan sama saja dgn ia mengaku lesbian, sambil menyatakan lagi jatuh cinta dgn Rhoma Irama.. Lha kenapa jika kami meragukan keislamannya, tiba-tiba muncul teriak-teriak histeris “Ad hominem! Ad hominem!?”

Nah, kata bijak terakhir ini, mungkin adalah yang paling masuk akal, dan paling sulit dibantah. Tapi mungkin juga, inilah kata-kata bijak yang paling koplak..

“Di masyarakat yang plural ini, janganlah ada pemaksaan kehendak. Biarlah setiap orang melakukan pilihannya sendiri, tanpa paksaan. Sesuatu yang dipaksa itu pasti tidak baik. Nilai yang dianut setiap orang berbeda, jadi jangan paksakan nilai yang kamu anut terhadap orang lain.. Jangan jadi tirani mayoritas..”

Sulit membantahnya kan?

Pertama-tama, saya tanya dulu: apakah sebagian besar dari kita memang dengan sukarela masuk kerja jam 8 dan pulang jam 5 atau bahkan lembur? Apakah memang kita yang memohon-mohon agar jatah cuti kita setahun cukup dua minggu? Apa anda memang luar biasa ikhlas dengan jumlah gaji anda sekarang? Jika tidak, kenapa anda tidak coba mengatakan kepada atasan anda sekarang:”Maaf pak, sebenarnya saya menganut paham bahwa kerja itu hanya 3 jam sehari, cuti 6 bulan dalam setahun, dengan gaji minimal 30 juta. Jadi, jangan paksakan kehendak bapak..”

Apa anda dulu saat remaja belajar dengan sukarela, ikhlas bin legowo?

Semua hukum dan undang-undang, apalagi dalam alam demokrasi, pada prinsipnya, adalah pemaksaan kehendak, dari sebagian besar masyarakat yang sepakat, kepada masyarakat lainnya yang tidak sepakat. Memangnya semua orang setuju dengan UU tentang Narkotika? Atau UU tentang Korupsi? Atau bahkan UU Pajak? Apa anda kira semua wajib pajak memang sudah gatal setengah mati ingin membayar pajak sebesar itu? Lha kenapa kaum liberal ga pernah menjerit-jerit di jalanan: “Jangan paksakan kehendak! Biarkan mereka bayar pajak seikhlasnya..”

Jadi kenapa, saat ada penduduk di suatu daerah setuju untuk memberlakukan perda anti prostitusi, perjudian dan miras, dengan hukuman cambuk bagi pelakunya, kaum liberal tiba-tiba lantang berteriak “Itu melanggar HAM!”. Anda kira memenjarakan orang itu tidak melanggar HAM nya untuk hidup bebas merdeka? Dan kenapa, ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi berusaha disahkan, tiba-tiba saja prinsip demokrasi berdasar suara terbanyak dianggap sebagai tirani mayoritas? Jika memang begitu, ga ada salahnya dong jika para pecandu narkoba dan miras ramai-ramai naik xenia untuk demo di jalanan dan berteriak “Jangan jadi tirani mayoritas! Kalian sudah melanggar HAM kami untuk ajeb-ajeb sampai pagi..”.

Jika saja setiap undang-undang harus disepakati semua orang dulu baru bisa disahkan, maka kita tidak akan pernah punya undang-undang satu pun. Yang tidak boleh, adalah memaksa dengan kekerasan. Jika sudah banyak yang setuju, dan memang UU itu demi kebaikan bersama (sama seperti kita dipaksa belajar saat remaja), di mana salahnya?

Penutup

Jujur, saya tidak membenci orang-orang liberal. Beberapa teman-teman dekat saya adalah orang liberal. Dan saya tahu, beberapa dari mereka, memang yakin bahwa yang mereka perjuangkan adalah demi kebaikan bangsa.. Tapi, banyak juga di antara mereka yang hanya ingin menciptakan lingkungan yang tepat, untuk melampiaskan nafsu mereka..

Tapi, saya koq sama sekali tidak sreg melihat arah menuju kebebasan yang mulai sangat kebablasan ini. Lihat generasi muda kita. Terus terang, jika melihat gang motor melintas yang membuat saya ngeri, video porno remaja yang terbit seminggu sekali, anak-anak SD di warnet yang saling memaki sambil mendownload lagu “selinting ganja di tangaaan…”, remaja yang membentak ibunya, siswa SMP menjual diri demi beli handphone, dan penjual narkoba yang jauh lebih banyak daripada indomaret, saya kadang-kadang pingin kemas-kemas dan pesan tiket ojek sekali jalan ke Timbuktu. Bukan ini lingkungan yang saya bayangkan bagi saya dan anak-anak saya kelak.. Dan saya bisa bayangkan masa depan negara kita jika para remaja yang seperti ini yang menjadi para pemimpin kita kelak..

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Mengharapkan media mainstream untuk mendidik remaja kita, sama saja seperti mengharapkan Lady Gaga mengisi kuliah subuh. Mereka lah yang menolak paling keras dan berjuang menggiring opini masyarakat setiap kali kita ingin negara mengendalikan mereka. Kadang-kadang, saya merasa, mereka lah yang menjadi lembaga superbody. Dan ingatlah: para wartawan media, adalah karyawan, yang tunduk pada kehendak majikan mereka.

Jurnalisme warga seperti kompasiana, forum-forum seperti kaskus, blog-blog, dan media-media online lainnya, mungkin itulah satu-satunya harapan kita di masa depan.  Sulit melawan media mainstream? Jelas, jika dilakukan sendirian. Tapi, saya yakin, banyak orang-orang yang memiliki nurani di luar sana yang, saya harap, bersedia menyeimbangkan dan memulihkan cuci otak masyarakat dari pengaruh yang telah media massa berikan. Ingatlah, revolusi raksasa yang merubah bangsa Arab sudah membuktikan, bahwa kekuatan jurnalisme warga yang bersatu bahkan mampu menumbangkan para pemimpin yang didukung salah satu negara terkuat di dunia. Demi hidup kita, dan hidup anak-anak kita, apa itu bukan sesuatu yang pantas diperjuangkan?

Orang-orang yang mencari kebenaran itu, seperti air.. Jika dihadang, ia berbelok. Dibendung, ia akan merembes. Bahkan jika dibendung dengan menggunakan beton dalam bendungan raksasa, ia akan menguap.. Ia tidak akan pernah lelah mencari jalannya…”

Oleh : Dian Jatikusuma
Red : Catalist Fist

97 Comments

  1. hasyim

    May 26, 2012 at 07:29

    sangat mencerahkan membacanya……

  2. budi okeng

    May 26, 2012 at 08:09

    Bahasa dan cara memaparkan bahasannya Keren,yg awam langsung ngerti

  3. Widi

    May 26, 2012 at 09:44

    tak perlu banyak dalil… langsung pada contoh.. luar biasa…..!!!

  4. budiman

    May 26, 2012 at 10:16

    argumen khas CIA….

    • Arif

      May 31, 2012 at 00:06

      Berarti anda nggak kenal CIA, cuma tahu beberapa argumen yang kebetulan dikeluarkan oleh orang2 yang dituduh (duh senengnya dihubungkan dengan mereka) CIA.

      Saya kasih tau sedikit, ini argumen khas KGB, yang dikopi paste sama CIA. Nggak tau KGB (kayaknya anda belum lahir jaman itu ya nak?), itu FSB jaman perang dingin. Nggak tau FSB? aduhh… belajar lagi deh, ya nak..?

  5. papa farel

    May 26, 2012 at 10:16

    mantaph.. teruskan berdakwah bung !

  6. eshabe

    May 26, 2012 at 10:45

    Paling suka dg kata-2 bijak yg terakhir :D

  7. al-fatih

    May 26, 2012 at 11:24

    Kereeeen. Menambah pembendaharaan kalimat…. Thanks.

  8. amir hamzah

    May 26, 2012 at 12:01

    Salut buat anda

  9. Ummu salma

    May 26, 2012 at 14:53

    Subhanallah…like this.

  10. ummu alma

    May 26, 2012 at 15:14

    membacanya,, spt mewakili suara hati sy… syukron..

  11. hanifa

    May 26, 2012 at 16:00

    tulisan ini sangat luar biasa. Brilliant!
    so thankful, and i want more……..!

  12. abu hisab

    May 26, 2012 at 19:35

    tulisan yang canggih!
    izin copy paste, kang!
    saya sertakan juga link baliknya.

  13. abuzai

    May 26, 2012 at 19:40

    good writing,brilliant

  14. abdillah

    May 26, 2012 at 19:43

    penuh penghayatan, menunjukkkan kematangan dan pengalaman, mencerahkan…
    Jazakallah

  15. edy idris

    May 26, 2012 at 19:55

    Subhannalloh. smg Allah menambahkan Ilmu bagi ente agar benmanfaat untuk dunia dan akkhirat. ALLAHU AKBAR !

  16. Reidy

    May 27, 2012 at 01:46

    SubhanAllah, sebuah uraian yg sangat mengena, menusuk namun tetap elegan.
    Benar2 penyambung lidah sebagian besar muslim yg mungkin memiliki keterbatasan dalam merangkai kata (seperti saya).
    Ijin share ya Mas Dian.
    JazakAllah khayran katsiran.

  17. nasaruddin

    May 27, 2012 at 12:19

    alhmdulillah….. semoga bermanfaat… amin

  18. Roni

    May 27, 2012 at 12:52

    Bagus, tapi sayang kepanjangan bos tiap counter attacknya… kalau debat dengan penjelasan yang panjang lebar itu, keburu ngacir lawan debat kita sebelum penjelasan selesai… Kalo bisa bikin penjelasan dengan kalimat yang lebih sederhana lagi…

    • anonymous

      May 27, 2012 at 15:57

      nggak juga kok bos, banyak orang yang denger cerita yang panjang sampe lupa waktu, storytelling itu membius loh :D

  19. galih azizkhnan

    May 27, 2012 at 19:39

    Sangat2 menginspirasi, salut!! terus berjuang

  20. Hendar Toha Rumapea

    May 28, 2012 at 09:12

    Mantap, sangat bernas.
    Tetaplah berteriak:
    “FREDOM………”

  21. Dian Jatikusuma

    May 28, 2012 at 09:59

    Thanks buat teman2 yang share, mudah2an jadi amar makruf nahi munkarnya kita..

    Saya yakin banyak penulis bagus di antara teman2. Semoga terpanggil nuraninya untuk mengimbangi berita-berita media mainstream..

    Matursuwun.. :)

    • Elsi Murwani

      May 28, 2012 at 13:12

      Alhamdulillah… sy pikir banyak sekali yg sepemikiran… hanya saja tidak bisa mengungkapkannya… Mmm… tp kalimat ini ==> “Dengan beragamnya fikiran yang pernah kami perdebatkan, diiringi menyeruput kopi dan menghisap rokok, fikiran saya dijejali dengan berbagai macam aliran lengkap dengan argumen yang luar biasa indah..” *Mas Dian masih merokok ya… maaf…

      Read more http://www.undergroundtauhid.com/kata-kata-bijak-yang-koplak-dasar-koplak/

      • Dian Jatikusuma

        May 28, 2012 at 13:37

        Aahh.. thanks mba elsi.. iya saya terkadang masih merokok.. terus berusaha meninggalkannya..

        thanks atas kritiknya.. :)

  22. Juwarto

    May 28, 2012 at 10:04

    Luar biasa! Tetap semangat bro!

  23. epriyono

    May 28, 2012 at 12:42

    wow…subhanalloh…contoh yg anda paparkan sangat bull’s eye, gamblang dan tidak terbantahkan..keep posting, akhi! syukron

  24. Koplak

    May 28, 2012 at 12:59

    Ini termasuk argumen koplak juga gak sih? Kan ngikutin kata2 penulis “Kemampuan yang paling hebat, dan juga paling mengerikan dari para filsuf, sastrawan, dan penulis amatiran (seperti saya), adalah merangkai kata-kata.. Kemampuan persuasi, yang bisa membuat hal-hal yang sebenarnya koplak, terlihat bijak..”

    Jadi argumen2 di atas adalah kemampuan persuasi penulis, yang bisa membuat hal2 yang sebenarnyha koplak, terlihat bijak…

    Just wondering…

    • Dian Jatikusuma

      May 28, 2012 at 13:38

      hihihi.. mas koplak.. silahkan kritisi sendiri.. Jika menurut anda argumen saya juga koplak, sah2 saja.. saya kan ga memaksa anda setuju..

    • Arif

      May 31, 2012 at 00:10

      Terlihat bijak, menjadi koplak

      juga bisa kayaknya

  25. Waku2

    May 28, 2012 at 15:24

    hahaha2 agrumen2 orang liberal emang rata2 koplak… coba aja mereka ngomong ‘agrumen2′ semacam itu ke ortu (babeh, emak) mereka.. paling2 juga langsung digampar, hahaha…

  26. Muhammad Janwari Farqi

    May 28, 2012 at 15:29

    mantap nih mas bro,lanjutkan berdakwah.. :D

  27. zamzam

    May 28, 2012 at 15:54

    thanks, artikelnya:
    mari sama-sama membikin gerakan yang nyata diantara kita yang masih semangat untuk perbaikan generasi muda kita, terutama bentuk perlawanan terhadap media mainstream yang berniat mencuci otak kita, saya usulkan nih beberapa langkah(paling tidak dari kita sendiri):
    1. selalu melakukan perlawanan media mainstream yang menyudutkan umat Islam dengan tulisan tepat dijantung medianya di kolom-kolom coment website mereka dengan argumen yang jelas dan bahasa yang sopan dan ilmiah, dengan sasaran pengunjung yang lain mendapat sumber perenungan.
    2. Membuat tulisan yang sederhana dengan bahasa anak muda mengenai amar makruf (mengajak kebaikan kembali pada Islam) maupun nahi munkar (kritikan budaya hura-hura yang bertentangan dengan Islam).
    3. Membuat gerakan di jejaring sosial untuk generasi muda Islam agar kembali belajar mengkaji Al-qur’an dan Hadits. misalnya kita buat “Gerakan satu hari dalam seminggu tanpa TV, gantilah Al-Qur’an dan Hadits” (mengingat ketergantungan masyarakat kita pada TV, maka kita coba kampanyekan budaya tholabul ‘ilmi walau hanya sehari)

    mudah-mudahan bisa, bila kita mengaku ghuroba…syukron!!

    • Dian Jatikusuma

      May 28, 2012 at 20:44

      wah, setuju!

  28. wikarna

    May 28, 2012 at 16:13

    ALLAHUAKBAR…HAJAR KEMUNGKARAN!!!

  29. weezerian

    May 28, 2012 at 18:10

    ditutup dengan benar-benar bagus, saya merasa tercerahkan dan tenang. Bebas memang enak, tapi kebebasan yg kebablasan malah bikin takut, apalagi kalau sudah punya anak

  30. ardie

    May 28, 2012 at 19:38

    merindu homicide… lugas dan tuntas… Allahu Akbar… :)

  31. momipey

    May 28, 2012 at 20:23

    Top Markotob, mas..

    °(^▿^)/°

  32. saya mas Dimas

    May 29, 2012 at 05:08

    boleh tahu facebooknya ndak…
    mungkin tanya” lebih dalam ^^

    • Dian Jatikusuma

      May 29, 2012 at 11:57

      facebook saya: Dian Jatikusuma
      twitter: @DianJatikusuma

  33. Didik

    May 29, 2012 at 05:49

    ekselen Dab..
    dadi nduwe kalimat jawaban lek ngadepi lawan ngobrol neng rig..
    nuwun sanget Mas Dian

  34. Poi

    May 29, 2012 at 15:28

    Ingin mengomentari yang ini:

    “Jangan melihat siapa yang mengatakan dong. Kalau mau mengkritisi, kritisi gagasannya, kata-katanya, fikirannya. Jangan kritisi pribadi dan kelakuannya (bahasa alaynya: ad hominem).”

    Saya setuju sebagian, yaitu bagian tengah (“Kalau mau mengkritisi, kritisi gagasannya, kata-katanya, fikirannya.”). Bagi saya, siapapun yang mengatakan kebaikan, meskipun itu Angelina Sondakh atau Iblis sekalipun, akan saya ikuti. Meski tentu harus berhati-hati dan dicerna dulu dengan baik. Seperti halnya sebaik-baiknya orang yang mengatakan, kalau perkataannya saya tidak setuju, ya saya bilang tidak setuju.

    Sebenarnya dua kalimat pertama tidak harus equal kalimat terakhir, yaitu kalau kita melihat apa yang dikatakan dan bukan orang yang mengatakannya (dengan kata lain, melihat kebenaran dalam kata-kata itu), bukan berarti kita tidak bisa mengkritisi orang yang mengatakannya.

    Dan saya jadi ketawa kalau istilah “ad hominem” dikatakan alay, karena banyak orang masih suka menyerang orangnya tanpa mengindahkan substansi perkataannya, alias ad hominem. Dan di mata saya, orang-orang yang ad hominem itu alay. Jadi istilah itu digunakan untuk, dan bukan oleh, orang alay.

    • Dian Jatikusuma

      May 29, 2012 at 19:41

      Hahahah.. ad hominem sebagai bahasa alay tentu saja adalah lelucon. Tentu saja ad hominem bukan bahasa alay. Memangnya mas pernah ketemu bahasa alay: ad hominem?

      Saya tegaskan: saya tidak bilang: kritisi orangnya dong, kata-katanya ga usah. Saya katakan: kritisi secara keseluruhan: kata-kata, sikap, pribadi orangnya.

      Saya kasih contoh mudah: ada teman anda yang sering menipu anda ngajak anda berbisnis, lalu ada satu teman lagi yang selalu jujur kepada anda menawarkan bisnis yang sama persis. Yang mana yang anda pilih? :D

  35. faith

    May 29, 2012 at 21:48

    sbenernya untuk menjelaskan semua ini gak perlu lewat bhasa seperti ini,langsung kasih aja dalilnya
    tapi orang2 sekarang klo ada yg ngomong bawa2 dalil pasti males bawaannya,banyak yg malah ngatain sok suci/sok alim dll
    makanya harus dengan bahasa debat ky gini

  36. Syahruni

    May 30, 2012 at 04:52

    Amazing..Barakallah semoga dibaca n dihayati masyrkat luas agar mrubah mind set manusia Indoneia yg salah kaprah

  37. yoke

    May 30, 2012 at 07:42

    share …
    di baca sepintas lalu terlihat ….dalam…dan penuh makna..

    “Kita tidak perlu menghakimi keburukan orang lain.. Biarlah itu urusan dia dengan Tuhannya.. Hanya Tuhan yang tahu mana yang paling benar. Hanya Tuhan lah yang berhak menghakimi, di akhirat kelak..”

    ini mengandung arti, menghakimi tidak berdasarkan magna kita ….tapi berdasarkan aturan dan hukum tuhan. Jika kita yang menghakimi akan menjadi “hukum seberat-beratnya”….jika ingin di bahas sebaiknya di telaah lagi…dasarnya.

  38. nikolai karbovsky

    May 30, 2012 at 10:25

    woooooww….mantap

  39. Abu Tsaqib

    May 30, 2012 at 10:27

    Subhanalloh, keep the spirit gan ! defend the pure islam forever !!!

  40. Abu Tsaqib

    May 30, 2012 at 10:27

    izin share ya ? syukron…

  41. Hari Budi Susetia

    May 30, 2012 at 12:40

    Yang beginian namanya pencerahan. tanpa harus berdalil ria seperti pejabat republik lebay ceria, semua yg baca langsung paham bin ngerti. tp klo gak ngerti dan tetep ngotot dengan argumentnya bgmn? yach…. perlu dipermaklum rialah. karena rambut, sidik jari dan retina mata kita nggak mungkin sama. Lanjut terus juragan

  42. M,IRFAN

    May 30, 2012 at 17:46

    he he dijawab ya…? perbandingannya ga apple to apple namanya itu mas (see the meaning of apple to apple by ur self)… penjelasannya begini… bayar pajak, belajar (anyway saya belajar waktu sekolah ikhlas kok… ga tau kamu ternyata ga ikhlas belajar … sayang dunk uang ortumu terbuang percuma bayarin anak yg ga ikhlas belajar)…uu anti korupsi, uu anti narkotik dll yg bro sebut diatas itu diatur oleh uu, yang disahkan oleh negara dan parlemen sebagai wakil rakyat (opps sori kita berbeda soal demokrasi ini).. nah soal konsert artist musik luar negeri ga ada UU yg melarangnya.. buktinya si beyonce knowles (artis amerika) bisa konsert di Indo.. so satu2nya alasan kelompok yg menentang konsert lady gaga adalah kekhawatiran bahwa konsert ini bisa merusak moral orang yg nonton, padahal mereka ga minta kok dijaga moralnya…. dan lagi yg akan menonton merasa biasa2 aja… nah disini letak pemaksaan kehendaknya…. kecuali ada uu yg mengatur bahwa konsert lady gaga/artis LN dilarang… apa ?konsert lady gaga bertentangan dengan uu pornografi dan porno aksi… lah kan sudah jelas batasan di UU itu… dan saya yakin ga ada yg terlanggar kok dari lady gaga… apa? lady gaga penyembah setan ..? kwak kwak (give me one proof) lagi pula biarin aja…kecuali dia ngajak penonton nyembah setan juga..apa? lady gaga illuminati? apa? lady gaga penganjur seks bebas apa? lady gaga pendukung gay dan lesbian .. apa? lady gaga buang air besar ga cebok? apa lady gaga suka ngupil? apa? lady gaga keteknya bau…( silakan taambah sendiri alasan yg membuat lady gaga harus dilarang, yg pastinya logika mas di atas yg membandingkan perkara yg di atur UU dgn konsert lady gaga jelas ga apple to apple….(DITANGGAPI YA)

    • Dian Jatikusuma

      June 1, 2012 at 17:49

      wah, cukup satu jawabannya: UU Anti Pornografi, yang sudah kita miliki.. :D

    • han

      June 3, 2012 at 23:33

      @M.Rifan…..wah anda ini gimana toh pernah belajar hukum belum. kalau kita ke amerika meskipun bukan warga amerika tetep harus mematuhi aturan hukum yg berlaku di amerika..!!!begitu juga Indonesia kita ini yg katanya negara hukum siapapun yg mo kesini wajib hukumnya mengikuti aturan n hukum yg berlaku di Indonesia…..begitu mas bro paham…???

  43. Bejo Koplak

    May 30, 2012 at 21:32

    Dangkal dan koplak….sama juga antara yg debat dan mendebat; tidak bikin cerah malah gelap….tukang omong saja…masing2 pihak asal menang.

  44. Vermillion

    May 31, 2012 at 06:40

    Dua jempol tuk penulis.. salut…

  45. nyd

    May 31, 2012 at 12:57

    alus jang aluus pisan..
    hatur nuhun..

  46. ramtse

    June 1, 2012 at 14:23

    Saya melihat jawaban terakhir penulis bukan sebagai perbandingan, tapi sebuah ilustrasi yang cerdas. Jadi tidak selalu relevan jika dikatakan “apple to apple” atau tidak.


    menyegarkan

  47. cherie

    June 2, 2012 at 07:39

    Makasi mas dian pencerahannya.. Bagus bgt artikelnya. Bahasanya lugas, gampang dimengerti, dan yg pasti sangat LOGIS. Saya yakin kebenaran yg ditutup2i media mainstream itu suatu saat akan terkuak..Krn kebenaran itu seperti setetes minyak, mau dicampur air seberapa banyak pun, minyak akan tetap muncul ke permukaan.. :)

  48. Hendra

    June 2, 2012 at 08:12

    Aristoteles pernah mengatakan bahwa keadilan adalah ketidak adilan itu sendiri atau ada adalah ketidak adaan itu sendiri. lady gaga dilarang untuk keadilan siapa? masyarakat? masyarakat yang mana? yang tidak setuju,,,berarti kan tidak adil bagi yang setuju. keadilan harus dilihat dari dua sisi adil bagi Indonesia dan adil juga bagi lady gaga..!! kalo cuma berpikir satu sisi,,yah Egois..! Setiap manusiakan diberikan kebebasan untuk bicara seiring dengan kebebasan untuk menutup telinga.

    • ahmad

      June 2, 2012 at 21:29

      kalau saya bicara di kuping anda boleh ???

    • han

      June 11, 2012 at 04:14

      liberalisme tidak sama dengan freedom, kebebasan atau hak asasi tetap harus bertanggung jawab dan tidak mengganggu kebebasan atau hak asasi individu lain, kalau lady gagap tidak mau mengikuti aturan perundang2an yang berlaku di Indonesia dan mengharagai budaya kita ya wajarlah dia ditolak

  49. ahmad

    June 2, 2012 at 21:28

    ane kopi paste boleh– tetep menyertakan sumbernya

  50. Antan

    June 5, 2012 at 20:06

    Tulisannya sangat mantab …. berisi, tapi mudah dicerna.., tidak membosankan saat dibaca …. poko’e muantab …. dan cerdas sekali …

  51. yessika

    June 5, 2012 at 21:03

    Kritis…

  52. lIsa

    June 7, 2012 at 05:42

    Sy share link ini di twitter setiap ketemu anak2 muda yg mempunyai prinsip yg disebut di artikel, mohon ijin utk mencetaknya boleh? Kebetulan saya bisnis radio dgn target anak muda, akan saya bagikan kependengar sy. Terimakasih

    • Dian Jatikusuma

      June 7, 2012 at 20:22

      Silahkan mba ilsa.. banyak yang mencetaknya koq.. tanpa nama juga tidak apa.. :)

  53. teh inda

    June 7, 2012 at 11:49

    semangat !!!
    tapi waktu membaca “semua yang makhluk yang berkaki dua” kok jadi inget sama ayam ya…
    afwan , becanda :)

    • teh inda

      January 29, 2014 at 15:51

      jan 2014
      ga terasa udah pernah mbaca artikel ini tahun 2012, dan saya masih punya pendapat yang sama tentang “ayam” :D

      ..dan masih ngakak2 juga mbaca tulisan ini
      bener2 tulisan yang bagus, mencerahkan …
      ijin share ya :)

  54. Dion

    June 7, 2012 at 16:41

    Penulisnya, mas Dian sangat cerdas ya,,
    sangat mencerahkan,,
    terima kasih :D

  55. Maulana

    June 8, 2012 at 13:48

    bagus banget mas artikelnya, mencerahkan sekali. bagi tipsnya dong biar bisa seneng nulis jg nih:d

    • Dian Jatikusuma

      June 12, 2012 at 10:45

      coba kontak fb saya mas maulana, Dian Jatikusuma. thanks ya.. :)

  56. hanza

    June 10, 2012 at 18:59

    GREAAAATTT!!! bahasan yg berat dg bahasa yg ringan :D
    Semoga instiqomah broooo

  57. belajar islam

    June 11, 2012 at 20:45

    jazakallah blader.. ^^

  58. soraa

    June 13, 2012 at 12:30

    Syukron,,
    atas tulisannya yang sangat mencerahkan yang disertai dgn contoh” kasus yang sangat simple namun tetap sangat menarik.

  59. dr.emi

    June 15, 2012 at 01:31

    aku wes puseng sama media tipi, blowup di mana mana, dan sejenisnya. pokoe saya dukung penulis, maju terus pantat mundur. MERDEKA!!!

  60. haady10

    June 17, 2012 at 13:17

    keren banget nih bhasannya, g terkesan mnghakimi tpi malah sprti mnnjukkan jlan yg benar, keep posting gan :)

  61. denny

    June 26, 2012 at 18:10

    salut !! bahasanya ringan dan mudah di mengerti .. harapan saya.. moga tetap istikomah …

  62. hendra

    June 29, 2012 at 09:13

    Mantap …

  63. yamin

    June 29, 2012 at 23:16

    Bahasa adalah logika. Dengan bahasa pula logika itu diruntuhkan. Hebat…

  64. Octo

    July 5, 2012 at 11:10

    sebenarnya Org2 yg ber-kata2 bijak yg koplak itu adalah pelaku utama yg menggagaskan/mengharapkan keadaan yg dia inginkan tercapai, contoh seperti :

    1. Ingin bebas buang sampah dengan gratis dengan buang ke kali tapi masalahnya ada yg tidak suka, akhirnya munculah ide dipikiranya berkata “Kenapa kita protes sama tetangga kita yang buang sampah ke kali? Toh sampahnya sampah dia sendiri (ya mana mungkin dia dengan ikhlas buangin sampahnya ente), kalinya bukan milik mbahmu, lantas kenapa ente yang sewot” dengan begini org akan berhenti mencoba membahas/mengkritik alias jadi “tutup mulut”, akhirnya kan dia sendiri jg bisa lebih nyaman dan lebih leluasa ikut2an buang sampah sembarangan ke kali seperti org lain jg.

    2. Ingin adanya sex bebas tapi banyak yg menentang sex bebas, supaya org yg menentang ini bisa tutup mulut akhirnya munculah gagasan dipikiran untuk berkata-kata bijak yang koplak seperti kalimat yg tertulis diatas.

    Intinya “org yg berkata-kata bijak yang koplak” itu adalah org yg ber-pura2 mengaku sebagai pihak ketiga yg netral atau yg mengaku sebagai korban karena pertentangan itu, supaya pihak yg menentang itu jadi “tutup mulut (diam)” tidak bisa berkata apa2 lagi yg akhirnya mereka dengan berat hati terpaksa membiarkan itu terjadi.

    Media mainstream sendiri sudah menyadari dan mencoba membuat tayangan lebih banyak bermanfaat baik bagi org banyak seperti TVRI dan TPI yg dulu tapi resikonya org akan mudah jenuh dan malas untuk menontonya, ini berdampak penurunan pendapatan karena banyaknya persaingan media mainstream lainya, untuk mengakali demi keuntungan uang yg banyak maka dibuatlah tayangan berita yg rancu dan tayangan acara lainnya yg tidak wajar, karena karakter manusia senang menonton dan mengamati yg tidak wajar ketimbang yg wajar2 saja itu hanya bikin jenuh untuk menontonya. Menurut sy solusinya mencari adakah cara agar media mainstream bisa mendapatkan keuntungan uang yg besar tapi tetap terus mampu menanyangkan tayangan berita yg tidak rancu lagi dan tayangan acara yg wajar dan berpendidikan yg bisa mengarahkan kemajuan baik bagi anak bangsa natinya. Bila tidak ada cara menurut sy lebih baik ditutup saja cukup hanya TVRI saja yg ada, ini pasti akan lebih baik.

  65. dzagat

    July 30, 2012 at 01:58

    Posting dimakan setan mulu hehehe

  66. tan

    July 31, 2012 at 17:03

    penjelasan yang seperti ini yang butuhkan oleh kebanyakan anak muda sekarang ini.
    banyak pertanyaan simple tetapi jarang yang mendapatkan jawaban secara mendasar….

  67. Andrizal Mxp

    September 11, 2012 at 08:59

    Artikel yg sangat inspiratif… pemikiran dilawan dengan pemikiran :)

  68. flamzya

    November 13, 2012 at 12:34

    saatnya bilang WOW… :D
    ngerefresh otak banget ne…
    bahasanya juga keren… (y)

  69. riz

    January 2, 2013 at 18:29

    inspiratif…
    mhn izin,mas dian >> sy sdh share (maaaf udah keduluan share di dp bbm saya)…sangat isnpiratif..smg makin byk yg membaca tulisan mas dian ini…
    saluuut

  70. toni

    March 15, 2013 at 16:02

    Siiippp. pukulan telak untuk para penganut & pendukung Liberal. dasar kumpulannya orang2 goblok, liberal mampus!

  71. Wanderer

    May 9, 2013 at 16:01

    Ada lagi nih bang, kata-kata bijak koplak yang sebetulnya ingin memaksakan umat islam acuh terhadap saudaranya yang tertindas:

    “Ngapain jauh-jauh ngeributin soal palestine, berupaya membela palestine hingga berjihad kesana, dahulukanlah dulu untuk menuntaskan permasalahan-permasalahan negara ini”

  72. Muhammad Budi Fajar

    January 16, 2014 at 19:53

    Makasih :)

  73. jumlah

    January 28, 2014 at 20:29

    menarik skali, sesuatu yg mgkn qta angpap sepele d kemudian hari akan jd “bencana” yg dasyat..
    generai muda yg memimpin negara ini d masa dpn qta sudah tau moral’a d skrg.. cerminan masa dpn telah terlhat..
    lantas apa yg harus d lakukakn?? apa qta harus pesan tiket ojek sekali jalan?? dan meninggalkan keburukan sodara2 qta?? ato qta tetap d dni dan berjuang ??? ada d benak qta semua..

  74. Sonia

    January 30, 2014 at 01:13

    Setuju, manusia itu kayak sepon. Menyerap segala macem yang ada di sekitarnya. Tulisannya gamblang dan sangat to the point. Tapi ada 2 poin yang saya kurang sreg juga (tapi ini murni opini).
    1. “Kita tidak perlu menghakimi keburukan orang lain.. Biarlah itu urusan dia dengan Tuhannya..dst” >> setahu saya kata-kata ini biasanya diterapkan ketika ada kasus di mana 2 orang sedang bersengketa dan saling menyalahkan. Si A ngomong begini, si B ngomong begitu, ga cocok. Masing-masing menyalahkan lawan bicaranya. Kalo udah gini para penonton (penonton ya, bukan hakim) tentu saja tidak bisa menghakimi, karena mereka gak tau persis cerita aslinya gimana. Mereka bukan saksi mata yang benar2 ngeliat kronologinya. Tapi kalo para hakim, ya namanya hakim, kerjaannya menghakimi. Yang saya maksud itu ketika kita cuman jadi penonton, misalnya Anas vs. Nazaruddin. Keduanya memiliki argumen yang (kelihatannya) sama2 kuat. Sebagai penonton, kita ya cuma bisa ngomong kata2 bijak di atas…

    2. “Di masyarakat yang plural ini, janganlah ada pemaksaan kehendak. Biarlah setiap orang melakukan pilihannya sendiri, tanpa paksaan. Sesuatu yang dipaksa itu pasti tidak baik….dst” >> kata2 ini juga setahu saya diterapkan ketika ada kejadian pemaksaan agama ke seseorang. Misalnya, saya diajak teman ke gereja X. Trus dia tanya “kamu emg nya ke gereja mana?”. Lalu saya jawab “saya ke gereja Y”. Trus temen saya bilang “jangan ke gereja Y..itu gereja sesat..ke gerejaku aja, karena blablablablabla….kamu itu dikasi tau yang bener itu mbok ya ikut..ayolaah ya ya ya?” Nah ini bisa kan kalo make kata2 bijak tadi. Namanya juga agama, keyakinan pribadi, ga bisa dong dipaksakan. Ato misalnya ada orang agama Nasrani yang maksa temennya yg Muslim utk makan di resto yang ber-babi. Jadi yang dimaksud “plural” di sini itu plural secara agama, atau lebih tepatnya mungkin SARA ya.. secara Indonesia terdiri dari banyak suku & etnis, jadi nilai2 yang dianut ya beda..ga bisa maksain kehendak emang.

    Itu SETAHU saya. Jadi 2 kata bijak yang Anda bilang koplak ini diterapkan ke hal2 tertentu, bukan ke semua hal.

    Tapi untuk masalah pornografi & lady Gaga dan lain2nya, saya setuju berat.

  75. hudasatu@yahoo.com

    January 31, 2014 at 06:17

    bs jadi saya dan semua yg ada di sini koplak semua. mgkin org yg tidak koplak ya…. orang yg dalam pikirannya tdk terpikirkan issue ini, tidak menyadari bahwa ini adalah issue, tidak komen mengenai isu ini, terlihat tidak bs melogika untuk menangkap adanya isu ini.. tp mempunyai cinta kepada kita semua karena Allah.

  76. Rusman

    May 8, 2014 at 20:56

    mantapp,.
    Inspiratif…

  77. Aji Sutanto

    May 13, 2014 at 14:25

    cerdas
    lugas

    butuh banyak pemuda seperti bang Dian ini

    ijin share bang

  78. Shodiqul Muzaki

    May 19, 2014 at 07:19

    sangat bernas bung ,….

    keren ,…….

  79. henry wiaya

    July 20, 2014 at 17:04

    Inspiratif, elegan membangun argument, sangat mudah dipahami, jempol,…

  80. rian

    August 5, 2014 at 05:51

    Mas admin, mungkin kalo bisa kutipan-kutipannya dikasih warna berbeda gitu biar lebih nyaman bacanya :)

  81. dian

    August 31, 2014 at 21:04

    Boleh sdkit komen yaa terutama yg mengenai pemaksaan kehendak…. kalo mnrt sy sih harus bisa dibedaiin dulu mana yg “keharusan” mana yg “pilihan” contoh seperti jam kerja itu adalah keharusan dimana kita sudah sepakat dlm hal ini menandatangani kontrak kerja…yg bearti kita sudah “iklas” kalo ngga knapa tanda tangan kontrak kerjanya wkwkwk trus soal UU itu juga merupakan rules yg harus ditaati kita bersama kalo ngga suka bs pindah ke negara yg mgkn ngga ada uu tsb…beda lagi halnya dgn pilihan ssuatu yg bs kt tntukan sndiri tp dalam konteks ini kita dipaksa untuk mengikuti atau memilih yg tdk sesuai dgn keinginan kita itu yg mnrt sy sbagai pemaksaan kehendak… ngga di ikutin pun ya gpp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>