Peradaban Barat Makin ‘Dihantui’ Ateisme

By on June 17, 2012


Underground Tauhid -
Produk akhir liberalisasi pemikiran sesungguhnya paham ateis. Kita bisa membacanya dari fenomena peradaban Barat. Masyarakat Barat masih akan terus dilanda krisis agama yang serius, akibat dari liberalisasi agama yang berabad-abad lamanya menyerang Barat. Di Amerika, prosentase orang yang tidak percaya Tuhan meningkat menjadi 15% sejak tahun 1990. Sementara di Inggris — yang konon termasuk kerajaan di Eropa yang religius — 22 % pada tahun 2004 penduduknya tidak percaya pada agama.

Makin lama agama bagi sebagian orang Barat makin dipinggirkan, dipandang bukan menjadi sesuatu hal yang menyejukkan lagi. “Kata agama telah menampilkan gambaran perilaku destruktif atau bahkan menjengkelkan” kata Charles Kimballs. Akhirnya, ateisme pun sekarang menjadi tren orang Barat. Invasi ateisme ini melewati proses yang panjang, melalui proyek liberalisasi pemikiran.

Atheisme modern dapat dilacak pemicunya pada zaman pencerahan (reneissance) Eropa. Zaman ’pencerahan’ ini sesungguhnya awal dipinggirkannya agama. Orang Barat menyebut pencerahan, tapi sesungguhnya ini tanda ’kiamatnya’ agama. Bagi Barat, justru ini awal bangkit, keluar dari zaman kegelapan (The Dark Age). Selama ratusan tahun mereka hidup dalam penjara. Barat menyebut the dark age, karena ada perlakuan kejam dari agamawan terhadap ilmuan. Copernicus (1473-1543) dan Galileo (1564-1642) dihukum karena pendapatnya tentang teori heliosentris bertentangan dengan Gereja. Jadi pemicunya, kegagalan Kristen berkompromi dengan ilmuan. Begitu para ilmuan bangkit, Barat sudah memutuskan untuk melakukan privatisasi agama.

Gugatan Barat terhadap agamanya juga dipicu oleh kebingungan mereka dalam merumuskan makna religion dan konsep ketuhanan Yesus. Karen Amstrong dalam The Story of God mengatakan Tuhan adalah abstrak dan penjelasan-penjelasan yang ada membosankan. “Semua perbincangan tentang Tuhan adalah perbincangan yang sulit” kesimpulan Amstrong.

Tuhan Yesus pun diragukan eksistensinya. Doktrin Trinitas yang sulit dipecahkan membuat ilmuan Barat bertambah confuse. Bahkan pada titik ekstrim, mereka putus asa mendiskusikan tentang Tuhan dengan mempertanyakan keberadaan Yesus. Groenen dalam Sejarah Dogma Kristologi:Perkembangan Pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat Kristen menyimpulkan, kemisteriusan Yesus tidak dapat dijangkau akal. Bahkan ia mempertanyakan apakah Yesus itu ada atau tidak.

Seorang teolog Kristen, Schleiermacher, secara kritis menyatakan bahwa doktrin Kristen tentang ketuhanan membuat keimanan menjadi rentan terhadap skeptisisme. Ia menggugat adanya tuhan tiga. Menurutnya konsep ini adalah dogma yang tidak masuk akal. Bahkan karena begitu putus asa, Nietzsche mengatakan bahwa Tuhan telah mati.

Menurut Nietzche, kematian Tuhan akan mendatangkan fase sejarah manusia yang lebih baru dan lebih tinggi. Ia menganjurkan agar manusia membebaskan dirinya dari bayang-bayang Tuhan. Manusia, menurut  Nietzche, harus menjadi Tuhan agar ia bisa menentukan nasibnya sendiri.

Kekecewaan Barat terhadap agamnya bertambah ketika mengingat sejarah kelam otoritas Gereja pada abad pertengahan. Mereka seakan dihantui trauma kekejaman lembaga Inquisisi Gereja. Sebelum zaman Revolusi, Gereja, menurut beberapa sarjana Barat telah menyalah gunakan otoritasnya. Inquisisi adalah institusi Gereja yang sangat kejam menghukum orang-orang heretic dan orang yang menentang hukum Bibel. Sebagai wakil Tuhan di bumi, Gereja berhak menghukum penganut Kristen yang membangkang. Para Pendeta juga berhak mengampuni dosa manusia.

Seorang Ilmuan Galileo Galileo dihukum karena menyebarkan teori heliocentric yaitu teori yang menyatakan matahari adalah pusat tata surya. Temuan Galileo ini bertentangan dengan Bibel bahwa bumi adalah pusat tata surya dan berbentuk datar. Karena khawatir iman umat Kristiani tergoyahkan oleh temuan Galileo, maka Galileo dipaksa mencabut pernyataan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Di depan Mahkamah Gereja, Galileo terpaksa menyatakan janji tidak akan mempertahankan dan menyebarkan temuannya tersebut.

Nasib Galileo masih mendingan dibanding kaum Kristen heretic. Mereka disiksa dengan sangat kejam. Di dalam ruang Gereja disiapkan tempat khusus untuk penyiksaan. Peter de Rosa, seorang tokoh Gereja, menyebut kekejian institusi Inquisisi sangat luar biasa di luar batas kemanusiaan. Suatu hari pasukan Spanyol menemukan mayat-mayat berlumuran darah dalam keadaan telanjang dan dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Sampai-sampai tentara Spanyol ngeri menyaksikan ruang penyiksaan Inquisisi tersebut.

Kekecewaan Barat terhadap agama tidak hanya disebabkan kerancuan konsep ketuhanan dan kekejaman otoritas Gereja. Bibel sebagai kitab suci juga dianggap sumber masalah. Bahasa, isi dan sejarah Bibel mulai diperdebatkan ketika para pengkritik menemukan keganjilan isi Bibel.

Sampai kini belum ditemukan naskah asli berbahasa Ibrani atau Aram. Bahasa Injil yang menjadi rujukan penerjemahannya pun bukan bahasa yang digunakan oleh Yesus. Rujukan penerjemahannya adalah berbahasa Greek (Yunani). Injil Perjanjian Baru (The New Testament) ditulis dalam kurun waktu yang sangat panjang, kurang lebih 300 tahun setelah wafatnya Yesus, dan ditulis oleh berbagai pengarang dalam berbagai bahasa dan versi. Pada saat itu tidak kurang dari 40 jenis karangan yang ditulis. Lamanya rentang waktu penulisan ini sangat rawan pemalsuan dan kesalahan.

Injil saat ini pun adalah hasil voting Konsili Nicea. Pada tahun 331 M, pasca-Konsili Nicea, di bawah kuasa dan pengawasan Kaisar Roma Konstantin, ditetapkanlah Injil Resmi seperti yang kita kenal sekrang ini. Injil Perjanjian baru itu adalah (Injil Markus, Matius, Lukan dan Yohanes). Injil resmi Kaisar Roma tersebut dinamakan Injil Kanonik, sedangkan Injil-Injil lain dibakar dan dimusnahkan

Standar apa yang dipakai Kaisar Roma tersebut untuk menyeleksi berbagai versi Injil, tidak jelas. Hingga kini bahasa Injil asli masih misteri yang tidak bisa dipecahkan. Saat ini ada sekitar 5000 manuskrip teks Bibel dalam bahasa Greek, yang berbeda satu dengan lainnya. Berangkat dari kontroversi ajaran Kristen ini, Barat kemudian memberontak. Agama dianggap sumber masalah. Sebagai konsekuensinya, mereka membuat tembok pemisah antara agama dengan  aspek-aspek kehidupan.

Lahirlah paham sekularisme, liberalisme dan humanisme. Sekularisme dianggap sebagai solusi dalam menjalani kehidupan orang Barat. Karena dengan sekuler Barat terlepas dari dogma-dogma agama yang mengkungkung kebebasan akal.

Segala problematika tidak harus dikembalikan pada agama secara kaku. Manusia yang memiliki akal berhak mengatur kehidupannya sendiri tanpa campur tangan hukum Tuhan. Manusia adalah segalanya. Bahkan paham humanisme mengajak manusia untuk berpaling dari Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan dipandang akan menghambat perkembangan pribadi dan masyarakat.

Paham humanisme ini berkembang cukup pesat di Barat, menggantikan aturan-aturan agama. Agama tidak lagi mendapat tempat. Lebih dari itu, keyakinan religius dipandang sebagai faktor yangmenciptakan konflik antar manusia. Ilmuan Barat Jack Nelson Pallymeyer dalam bukunya Is Religion Killing Us ia menyebut Islam, Kristen dan Yahudi telah melakukan kejahan terhadap manusia melalui doktrin kitab sucinya. Pandangan Nelseon ini sebenarnya muncul dari rasa trauma Barat terhadap ajaran Gereja.

Paham Sekularisme, Liberalisme dan Humanisme ini pada dasarnya menggiring orang Barat pada ateisme. Arus Liberalisasi dan humanisasi agama, telah memberi peluang orang Barat untuk menafsirkan agama sesuai dengan logikanya. Humanisme adalah aliran filsafat modern yang memberi ruang kebebasa manusia untuk menafsirkan arti Tuhan. Menrurut aliran ini, manusia adalah pusat dari segala hal, bukan Tuhan. Inilah yang disebut ateisme modern. Tetap mengaku beragama, tapi menolak aspek-aspek hukum ketuhanan.

Maka, bermain-main dengan agama dan konsep ket-Tuhan-an bukan lagi menjadi yang tabu lagi. Bahkan pernah ditemukan seorang Barat mentato pantatnya dengan nama Yesus.

Fenomena ateisme telah menjadi tren masyarakat Barat saat ini. Sudah banyak laporan adanya Gereja-gereja Eropa yang semakin sepi. Itu pun diisi dengan orang-orang tua. Bahkan karena kosong, sejumlah Gereja dijual. Beberapa orang masih mengakui eksistensi Tuhan, tapi menolak untuk beragama.

Bagi yang masih memiliki naluri keberagamaan yang kuat, mereka lari kepada agama-agama lain yang mengajarkan aspek spiritual. Islam tumbuh pesat di Eropa akhir-akhir ini. Karena ternyata ateisme tidak memberi solusi kehidupan ini.

Kuliah Ahad Underground Tauhid Bersama Ustad Kholili Hasib Serial 01 – Ahad, 17-06-20120

3 Comments

  1. Kadzim

    June 17, 2012 at 13:10

    Siip, good information. betul itu, rata2 org Barat percaya ada tuhan tp g beragama. sma aj dg ateis

  2. Egu Arifianto

    June 17, 2012 at 16:36

    Perdana…
    Operator baru…
    Selamat, smoga cerah seperti mentari di pagi hari

  3. Oky NP

    June 17, 2012 at 19:45

    Atheis akan runtuh oleh Monotheis. . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>