Prinsip “Do It Yourself” dan Konsep Kemandirian Islam

By on December 23, 2012

Underground Tauhid—Di komunitas underground, khususnya scene punk dan hardcore, istilah do it yourself bukanlah istilah yang asing. Terjemah secara langsungnya, do it yourself adalah “lakukan oleh dirimu sendiri”. Namun secara filosofis, istilah ini sering dimaknai sebagai suatu prinsip atau etika (ethic) untuk lepas dari ketergantungan terhadap orang lain.

Prinsip ini sangat dikenal di subkultur punk dan hardcore. Bahkan hal ini seperti identik dan melekat pada subkultur itu. Kelahiran istilah ini juga dianggap satu rahim dengan subkultur punk itu sendiri. Ketika punk lahir pada pertengahan tahun 70-an di Inggris akibat ketidakpuasan para working class terhadap sistem dan pemerintah negara yang kapitalis ketika itu, prinsip do it yourself lahir pula sebagai bentuk perlawanan dan sebagai alternatif solusi untuk lepas dari ketergantungan kelas pekerja (working class) terhadap pemerintah dan para pemilik modal.

Do it yourself diyakini setiap individu punk secara militan dalam seluruh aspek kehidupannya. Kesehariannya, penganut etika ini akan berusaha keras agar mulai bangun tidur di pagi hari sampai tidur lagi di malam harinya tetap jauh dari ketergantungan terhadap siapapun. Implementasinya secara kolektif, suatu band punk akan berusaha melakukan latihan dengan peralatan yang swadaya, merekam lagu-lagu mereka sendiri, mendesain kovernya, menggandakan masternya, sampai pada mendistribusikannya, semuanya dilakukan oleh mereka sendiri. Dengan cara seperti itu, bagi mereka adalah upaya kongkrit untuk melawan ketergantungan kepada major label atau perusahaan rekaman yang berorientasi kapital.

Do it yourself dan nihilisme

Dalam kajian filsafat, prinsip do it yourself ini sangat dekat kaitannya dengan faham nihilisme yang dianut oleh Barat. Suatu paham yang merupakan hasil pemikiran filosof atheis asal Jerman bernama Friedrich W. Nietzsche. Menurut Fatkhurrahman, secara harfiah, nihilisme berarti ketidakpercayaan kepada apapun. Juga menunjukkan sifat yang hampa, kosong dan negatif. Dalam beberapa hal kerap menuju pada wilayah kebebasan, baik dalam hal nilai, norma, maupun aturan, sehingga membentuk individu yang bebas.[1]

Hamid Fahmi Zarkasyi berkata bahwa tujuan dari filsafat nihilisme adalah untuk mengkaji dan kemudian menghapuskan segala klaim yang dilontarkan oleh pemikiran metafisika tradisional.[2] Padahal metafisika, dimana konsep tentang Tuhan menjadi landasan pemikiran malah dihilangkan atau disingkirkan.

Kemandirian yang didoktrinkan dalam filosofi do it yourself, meskipun kedengaran sangat ‘positif’ namun ternyata berasal dari akar pemikiran Nietzsche yang berusaha menghilangkan ketergantungan diri kepada apapun. Termasuk Tuhan. Karena bagi para nihilist, mereka merasa bisa menentukan hidup mereka sendiri tanpa campur tangan Tuhan.

 

 

Konsep Kemandirian dalam Islam

Kemandirian dalam Islam sangat berbeda dengan konsep do it yourself dari sejak akarnya. Meskipun secara umum penerapan antara keduanya tidak jauh berbeda, namun jika dasarnya berbeda maka semangat, mentalitas dan hasilnya pasti akan berbeda.

Islam mengedepankan pemahaman bahwa setiap manusia itu diciptakan oleh Allah Swt dalam kondisi yang terbaik. Potensi yang dimiliki manusia merupakan potensi yang mampu menjadikan setiap manusia itu memiliki peluang untuk menjadi mulia. Sehingga pantang bagi setiap muslim untuk memelas dan meminta-minta kepada orang lain. Jika sampai ada muslim yang mentalnya peminta, maka dalam Islam dianggap rendah derajat harga dirinya. Yadul ‘ulya khairun min yaadissufla![3]

Kemandirian dalam Islam berakar dari satu kata kunci: HARGA DIRI. Harga diri itu hanya akan diperoleh dengan cara sekuat tenaga mencari pertolongan Allah dengan cara berjuang agar kita menjadi orang yang layak  untuk ditolong oleh-Nya. Semakin seseorang menerapkan kemandirian dalam Islam, maka semakin dirinya memiliki harga diri yang tinggi.

Dalam penerapannya, Islam memiliki contoh militansi yang tinggi tentang kemandirian dan harga diri. Rasulullah Saw sejak usia 8 tahun 2 bulan sudah menggembalakan kambing karena tidak mau menjadi benalu bagi pamannya. Hingga usia 12 tahun beliau melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berdagang. Dari ketekunannya itu beliau bisa menikahi Siti Khadijah di usia 25 tahun dengan mahar 20 ekor unta muda.

Begitu juga dengan sahabat Abdurrahman bin Auf, ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau sedikitpun tidak membawa bekal materi apa-apa. Padahal beliau sebelumnya adalah orang yang sangat kaya. Pada saat tiba di Madinah, beliau ditawari sebidang kebun kurma secara gratis namun beliau menolak! Beliau hanya ingin ditunjukkan dimana letak pasar sehingga dia bisa memulai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan.

Apa bedanya? Dan mana yang terbaik?

Beda antara prinsip do it yourself dengan kemandirian Islam terletak pada dua hal. Yang pertama adalah hal yang melatarbelakangi munculnya kemauan untuk mandiri. Sudah dijelaskan sebelumnya, do it yourself sarat dengan dendam terhadap kapitalisme dan dekat dengan pemikiran nihilisme. Sedangkan kemandirian Islam didasari atas konsep harga diri.

Kedua, praktek kemandirian do it yourself adalah kemandirian yang lepas semaksimal mungkin dari peran pihak lain dalam pemenuhan kebutuhan hidup seseorang. Tentu ini sangat sulit dilakukan secara totalitas. Sehingga sering diantara orang-orang yang menerapkan prinsip ini tidak bisa militan secara penuh. Dengan kata lain, tidak ada orang yang bisa benar-benar do it yourself didunia ini karena dimanapun manusia berada, hidup atau mati, tetap saja ada peran Tuhan yang ikut campur terhadapnya.

Konsep kemandirian do it yourself hampir tidak masuk akal jika diterapkan 100%. Disatu sisi seseorang bersiteguh membuat pakaian sendiri tanpa harus membeli di toko baju, tapi disisi lain uang yang dia dapatkan berasal dari pekerjaan dia sebagai pegawai kantoran. Dalam prinsip do it yourself, hal ini sangatlah tidak konsekuen karena tidak ada satupun diantara manusia lepas dari peran orang lain. Ingat bahwa manusia adalah makhluk sosial. Bahkan orang yang tinggal di hutan belantara sekalipun yang jauh dari peradaban akan tetap membutuhkan pohon untuk diambil buahnya dan hewan-hewan disana untuk dimakan.

Sedangkan kemandirian dalam Islam, penerapannya adalah melakukan usaha sekuat-kuatnya untuk tidak menjadi benalu bagi orang lain selagi kita masih mampu. Tanpa melupakan peran Allah Swt. Dengan kata lain, konsep kemandirian Islam dibangun atas dasar ketauhidan yang luar biasa dimana manusia cukup bergantung hanya kepada Allah Swt saja. Namun gotong-royong bahu-membahu untuk melipat-gandakan kinerja bukanlah hal yang dianggap menyalahi konsep kemandirian Islam. Andaikata jadi pegawai, selama apa yang dia kerjakan itu sesuai dengan gaji yang didapatkan itu sah-sah saja dalam Islam. Karenanya menjadi pegawai bukan menyalahi konsep kemandirian dalam Islam.

Aa gym pernah suatu waktu berada di Madinah. Disana dia menjumpai seorang kakek buta yang duduk di tepi trotoar dengan memajang botol-botol parfum kecil di depan dia duduk. Karena kasihan, Aa memberikan sedikit uang untuk kakek tersebut. Namun kakek itu menolak dan dia hanya mau menerima uang jika orang tersebut membeli parfumnya. Dan uang yang dia terima harus setara dengan harga parfum itu. Tidak mau diberi lebihan.

Itulah konsep kemandirian Islam. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjadi ‘benalu’ bagi siapapun, namun tetap menjadikan Allah Swt sebagai tempat berharap dan meminta pertolongan. Lebih masuk akal untuk diterapkan, terlebih karena Allah Swt sudah menyiapkan pahala yang besar untuk hambaNya yang kuat dan mandiri. Wallahu a’lam.

Oleh: Aditya Abdurrahman Abu Hafizh

[Curhat Mingguan Ke-53, 16 Desember 2012, 22:57]

 


[1] LPM Justisia, Maret 2011

[2] Hamid Fahmi Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, Ponorogo: CIOS ISID, hal.16

[3] Tangan di atas (memberi) jauh lebih baik daripada tangan di bawah (meminta-minta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>